/** * jQuery Repeater * * Easily create a section of repeatable items. * * 1. Include repeater.js * 2. Define a template to be used by the repeater. * a. Input elements should have a class "property_{i}" (do not replace {i} with an index, the script will handle this. * b. The template should include a container for the "row" of elements. * c. Use the {buttons} merge tag to indicate the location of the repeater buttons. * * Example: *
Bertanding di stadion Al Bayt, Maroko sebenarnya punya kepercayaan diri yang tinggi. Mereka adalah tim Afrika pertama yang melangkah sampai semifinal. Tapi gol yang terlalu cepat dari Theo Hernandez etika laga baru berjalan lima menit membuat mental singa atlas sedikit turun. Apalagi setelah bek andalan mereka, Roman Saiss harus ditarik keluar setelah mengalami cedera.
Meskipun begitu, Maroko masih mampu berikan ancaman kepada Prancis. Tapi babak pertama harus berakhir dengan keunggulan les bleus. Masuk ke babak kedua, Maroko tampil lebih menyerang. Tapi keberuntungan masih berpihak kepada tim ayam jantan. Mereka menggandakan keunggulan lewat gol dari Randal Kolo Muani di menit ke-79. Wasit pun meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir. Prancis menang dengan skor 2-0.
Ini jadi momen sedih untuk banyak orang. Prancis, diatas kertas memang jauh diunggulkan . Dengan tim yang berisikan pemain bintangnya itu. Kemenangan Prancis sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Tapi ada sesuatu yang lain dalam tim Maroko. Sesuatu yang membuat banyak penikmat bola menjadi beralih mendukung singa atlas setelah tim mereka berguguran.
Maroko memang menampilkan aksi heroik di Piala Dunia 2022 ini. Dimulai dari babak fase grup. Mereka memuncaki grup F yang berisikan Kroasia, Belgia dan Kanada. Bahkan mengalahkan tim unggulan, Belgia dan mengirim mereka pulang lebih awal.
Lalu kembali memberikan kejutan di babak 16 besar. Mereka memaksa Spanyol melanjutkan pertandingan ke babak adu penalti. Dan mengalahkan mereka sekaligus melangkah ke perempat final. Lalu, lagi-lagi mengalahkan raksasa lainnya, Portugal. Maroko mengirim Ronaldo pulang dengan air mata setelah kalah 1-0.
Mungkin, selain kehebatan Maroko yang sampai mendapatkan julukan si pembunuh raksasa, ada hal lain yang membuat mereka dapat dukungan lebih dari suporter. Adalah momen kebangkitan Maroko ini tepat ketika Piala Dunia diselenggarakan di negara muslim, Qatar
Selain itu juga, Maroko selalu mengibarkan bendera Palestina di setiap kemenangan mereka. Hal tersebut sukses mendapatkan simpati dari pendukung negara-negara lain. Ketika kalah di pertandingan ini pun, para pemain dan ofisial dari tim Maroko tetap melakukan sujud syukur. Ini membuat mereka banjir apresiasi dari para fans.
Meskipun kalah, ini tetap jadi pertandingan bersejarah baik untuk Maroko maupun Prancis. Ini adalh kali pertama mereka bertemu di turnamen bergengsi. Sebelumnya, Prancis dan Maroko hanya pernah bertemu di laga persahabatan. Selain itu juga, Maroko adalah negara bekas jajahan Prancis. Banyak orang Maroko yang migrasi ke Prancis dan begitu juga sebaliknya. Jadi hubungan mereka memang sedikit rumit.
Fakta lain dari pertandingan tersebut adalah berakhirnya catatan tak terkalahkan Maroko di turnamen ini. Ini juga kali pertama maroko kalah di putaran final Piala Dunia sejak tahun 2018. Ketika itu singa atlas kalah dari portugal di fase grup.
Sementara Prancis punya catatan yang lebih menakjubkan. Mereka adalah tim pertama yang bisa melaju ke final Piala Dunia dua kali berturut-turut. Terakhir kali, Brasil pernah melakukannya di tahun 2002. Selain itu, Prancis selalu menang di total tujuh pertandingan fase gugur mereka sejak 2018. Satu-satunya tim yang punya catatan lebih baik adalah Brasil dengan sembilan pertandingan dari 1958 sampai 1970.
Theo Hernandez, yang mencetak gol pembuka ketika waktu berjalan 4 menit 39 detik adalah gol tercepat kedua Prancis di Piala Dunia. Rekor gol tercepat Prancis masih dipegang oleh Bernard Lacombe di laga melawan Italia tahun 1978, ia mencetak gol di menit ke-1.
Berbicara soal pemain prancis di pertandingan tersebut, kurang pas rasanya jika tidak membahas Antoine Griezmann. Pergerakan nya berpartisipasi besar terhadap gol pembuka Prancis. Ia juga memberikan umpan-umpan cantik nan mengancam pertahanan Maroko. Ia mencatatkan empat peluang pada pertandingan tersebut.
Pemain Atletico Madrid itu juga tampil sangat konsisten sepanjang turnamen di Qatar. Total, ia sudah menciptakan 21 peluang sepanjang turnamen. Itu melebihi catatan Messi. Artinya Griezmann adalah pencipta serangan terbaik di Piala Dunia 2022.
Griezmann juga menunjukan apa itu kerja keras di pertandingan tersebut. Ia tanpa lelah berlari dan berada di semua posisi di lapangan. Menyerang dan bahkan beberapa kali turun ke belakang untuk membantu pertahanan. Apalagi di menit awal babak kedua, ketika Maroko memegang dominasi penuh permainan.
Prancis dan Griezmann telah membuktikan, bahwa mereka tidak hanya bisa mengandalkan Mbappe. Sepanjang gelaran Piala Dunia, Mbappe memang menjadi sorotan sebagai salah satu pemain terbaik di turnamen. Bahkan semua lawan Prancis punya strategi anti-Mbappe, dimana mereka mengunci pergerakan Mbappe di atas lapangan.
Tapi di laga melawan Maroko ini, bukan Mbappe yang mengalahkan Maroko. Kerja sama tim dan pertahanan yang baik dari anak asuh Didier Deschamps membuat mereka lolos ke laga final. Meskipun, Mbappe juga tampil baik di pertandingan itu, dengan kecepatannya yang merepotkan pertahanan Maroko.
Prancis akan berhadapan dengan Argentina di Final. Ini akan menjadi laga yang super seru. Karena Prancis tentu ingin mempertahankan gelar Piala Dunia mereka. sedangkan untuk Argentina, jelas mereka sudah rindu dengan manisnya juara Piala Dunia setelah sekian lama. Sementara untuk Messi, ini akan jadi momen paling sempurna untuk menutup karir di sepakbola internasional.
Penonton juga akan dimanjakan dengan aksi Messi vs Mbappe. Dimana pemain terbaik akan menghadapi pewaris tahtanya. Messi pernah dipecundangi Mbappe di Piala Dunia 2018 kemarin. Berhubung Argentina masih dalam mood balas dendam, mungkinkah mereka akan kembali membalaskan dendamnya?
Sementara itu, setelah kekalahan ini Maroko akan berhadapan dengan Kroasia dalam laga perebutan juara ketiga. Meskipun bukan laga final yang sesungguhnya, ini bisa jadi kesempatan terakhir Maroko untuk memberikan kejutan kepada publik.
Tapi, apapun hasilnya nanti Maroko tetap memenangkan hati jutaan penikmat Piala Dunia 2022. Sang pelatih, Walid Regragui berkata bahwa yang terpenting adalah memberikan penampilan terbaik.
“hal yang paling penting adalah menunjukan wajah terbaik. Kita telah menunjukan bahwa sepak bola di Maroko itu ada dan kami memiliki pendukung yang kuat. Kami telah berikan yang terbaik. Kekalahan ini tidak menghilangkan cerita yang telah kita ukir sebelumnya”
Perjalanan Kroasia di Piala Dunia 2022 ini juga tidak kalah mengejutkannya dengan saat Piala Dunia 2018. Kemenangan atas Kroasia ini sekaligus menuntaskan dendam yang harus dibayar sejak Piala Dunia 2018. Saat itu Messi CS dipermalukan dengan skor 3-0 di babak penyisihan Grup D
Bermain di Stadion Lusail, Kroasia sebenarnya menjalankan strategi yang sama saat mereka mengalahkan Brasil, yaitu menguasai bola sejak menit awal. Tapi pertahanan tim tango yang rapat membuat Modric CS kesulitan masuk ke kotak penalti Argentina.
Anak asuh Lionel Scaloni yang justru mendapatkan kesempatan emas lebih awal. Argentina dihadiahi penalti di menit ke-34. Lionel Messi yang menjadi eksekutor sukses menjalankan tugasnya. Argentina bisa unggul sementara. Mereka kembali beraksi, kali ini Julian Alvarez yang menunjukan kebolehannya dengan membawa bola dari tengah lapangan sebelum mencetak gol di menit ke-39. Membuat Argentina unggul 2-0 di babak pertama.
Masuk ke babak kedua, Argentina tampil lebih percaya diri. Messi yang masih prima memberikan umpan matang ke Alvarez di menit ke-69. Dengan itu Argentina unggul 3-0. Skor tidak berubah sampai peluit panjang dibunyikan.
Hasil itu membuat Messi membawa Argentina ke final Piala Dunia kedua mereka. Setelah yang pertama adalah di tahun 2014, Albiceleste kalah melawan Jerman saat itu. Meskipun di pertandingan ini Argentina bisa menang 3-0, tapi bukan berarti tanpa catatan. Kroasia sebetulnya bisa menguasai jalannya pertandingan untuk setengah jam pertama.
Messi bahkan tidak terlihat di menit-menit awal pertandingan. Ia hanya berjalan menunggu rekan setimnya membuka peluang. Belakangan diketahui, cedera hamstring Messi sempat kumat di pertandingan itu. Sekitar menit ke-20, Messi terlihat berjalan sembari sesekali memegangi bagian paha belakangnya.
Ini sempat menjadi momen yang mengkhawatirkan bagi pendukung Argentina, sebab Messi memang punya sejarah cedera Hamstring. Selain itu, Cedera hamstring biasanya membawa petaka bagi para pemain yang menderitanya.
Tapi tidak lama kemudian, semuanya menjadi aman. Messi bisa melanjutkan pertandingan selama 90 menit penuh. Ia bahkan mencetak gol penalti dan memberikan assist, lalu membawa Argentina ke final. Ini jadi pertandingan terbaiknya selama gelaran Piala Dunia 2022.
Seperti yang disebutkan di awal, kemenangan ini tidak hanya membuat Argentina melaju ke final. Tapi juga sekaligus membayar dendam di tahun 2018 dengan tuntas. Ya, Messi CS berada dalam mimpi buruk setelah kekalahan 3-0 melawan Kroasia di fase grup Piala Dunia 2018.
Lionel Scaloni jadi saksi langsung pembantaian itu. Saat itu dirinya masih menjadi asisten pelatih Jorge Sampaoli. Dan kekalahan itu adalah titik terendah tim nasional yang berujung pada kekacauan perjalanan mereka di turnamen tersebut. Argentina nyaris tidak lolos fase grup. Mereka akhirnya kalah di babak 16 besar melawan Prancis.
Turnamen itu juga merupakan comeback Messi di timnas. Pada tahun 2016 ia sempat memutuskan untuk pensiun setelah gagal di tiga final berturut-turut. Setelah mendapatkan dukungan dari warga Argentina, ia kembali memperkuat Argentina untuk Piala Dunia 2018.
Tapi comeback Messi itu bukan cerita yang membanggakan. Bisa dibilang itu adalah comeback gagalnya. Perjalanan Argentina di Piala Dunia 2018 sangat mengecewakan. Itu seperti momen kehancuran timnas Argentina.
Namun empat setengah tahun kemudian, di pertandingan melawan Kroasia ini, pecinta bola telah menyaksikan Argentina baru yang lahir. Di tahun 2018 dimana perjalanan amburadul Argentina di Piala Dunia yang dihasilkan dari kekalahan atas Kroasia itu. Argentina bisa bangkit dan membayar tuntas skor 3-0 mereka.
Selain itu juga, Messi panen segudang rekor di kemenangan Argentina ini. Gol penalti pemecah kebuntuan yang dicetaknya itu adalah gol ke-11 nya di Piala Dunia. Itu artinya Messi sudah resmi menjadi pencetak gol terbanyak Argentina dalam sejarah Piala Dunia. Ia sudah mengungguli Maradona yang mencetak delapan gol di turnamen empat tahunan ini. Messi juga melewati rekor Batistuta yang mencetak 10 gol untuk Argentina di Piala Dunia.
Assist Messi di gol ketiga Argentina juga menjadi rekor bagi La Pulga. Itu adalah assist ke sembilannya dalam ajang Piala Dunia. Menjadikannya sebagai pemain Argentina dengan assist terbanyak di Piala Dunia. Sebelumnya rekor tersebut dipegang oleh Maradona dengan delapan assist.
Messi juga telah mencetak gol serta assist di empat gelaran Piala Dunia yang ia jalani. Itu artinya, ia adalah pemain pertama yang bisa mencetak gol serta assist di empat edisi Piala Dunia berbeda. Dengan begitu, ia tidak lagi berkecil hati setelah Ronaldo menjadi pemain pertama yang mencetak gol di lima edisi turnamen.
Ada satu lagi rekor yang akan dicetak Messi di Piala Dunia terakhirnya ini. Yaitu jumlah penampilan terbanyak di Piala Dunia. Saat ini, ia sejajar dengan legenda Jerman, Lothar Matthaus dengan 25 penampilan. Dengan Argentina sudah memastikan laga final, Messi akan menjalani laga ke 26 di Piala Dunia. Mengungguli Matthaus sebagai pemain dengan penampilan terbanyak di Piala Dunia.
Hanya ada satu hal yang masih kurang dari Messi untuk menjadi GOAT sesunggungnya. Ya, gelar juara Piala Dunia. Sebagaimana Maradona dan Pele telah mendapatkan trofi bergengsi itu. Tinggal satu pertandingan lagi untuk Messi memastikan dirinya pemain terbaik yang pernah ada.
Pemain senior, Zlatan Ibrahimovic yakin bahwa Messi akan menjuarai Piala Dunia tahun ini. Ia bahkan menyatakan bahwa ini sudah tertulis. Ia begitu yakin bahwa Argentina akan keluar sebagai Juara Piala Dunia 2022.
“Saya pikir ini sudah tertulis siapa yang akan menang, dan anda tahu siapa yang saya maksud. Messi akan mengangkat trofi itu pada akhirnya, ini sudah tertulis”
Ibra memang terkesan sangat yakin dengan prediksinya itu. Meskipun begitu, ia tidak menyangkal bahwa apapun bisa terjadi di Piala Dunia. Hal gila dan kejutan bisa saja muncul tiba-tiba di waktu yang tidak bisa diperkirakan.
“Menurut saya ini bukan kejutan. Argentina adalah tim yang bagus bahkan sebelum Piala Dunia dimulai. Namun, jelas ini Piala Dunia dan semuanya bisa terjadi”
Selanjutnya, Argentina akan menghadapi pemenang antara laga Prancis melawan Maroko. Tim singa atlas, Maroko tidak bisa diremehkan. Mereka bisa sampai ke babak semifinal setelah mengalahkan para raksasa Piala Dunia. Untuk itu, mereka mendapatkan julukan “si pembunuh raksasa”.
Sementara Prancis juga tim yang tak kalah kuat. Bahkan di atas kertas, Prancis adalah tim yang jauh lebih kuat dibanding Maroko. Mereka punya misi untuk membuat sejarah dengan back-to-back juara. Tapi sebagaimana kata Zlatan, ini Piala Dunia dan semuanya bisa terjadi.
]]>Ini dimulai di Piala Dunia 2002 di Korea dan Jepang. Kala itu, Prancis datang dengan status sebagai juara bertahan usai memenangi Piala Dunia 1998 yang digelar di rumah mereka
Tim Ayam Jantan juga menyandang status sebagai tim peringkat 1 dunia. Prancis adalah unggulan pertama. Skuad yang mereka bawa saat itu juga mayoritas masih berisikan para pemain yang membawa Prancis juara dunia 1998.
Namun, yang terjadi justru bencana. Prancis langsung kalah mengejutkan di pertandingan pembuka Piala Dunia 2002. Les Bleus kalah 1-0 dari Senegal yang kala itu berstatus tim debutan.
Di pertandingan berikutnya, Prancis ditahan imbang 0-0 oleh Uruguay dan kalah 2-0 dari Denmark. Tak satu pun menghasilkan gol, hanya meraih 1 poin, dan jadi juru kunci Grup A, Prancis terhenti di fase grup.
Sebelum Prancis ada Uruguay. Juara dunia 1930 itu gagal mencapai putaran kedua Piala Dunia 1934. Namun, kala itu, penyebab kegagalan Uruguay bukan karena kekalahan, tetapi karena mereka enggan ikut serta ke Piala Dunia yang diadakan di benua Eropa.
France 2002
Italy 2010
Spain 2014
Germany 2018The World Cup curse has been broken
France become the first world champions from Europe to make it to the KO rounds since Germany in 1994! pic.twitter.com/Pf95JIFHNl
— CBS Sports Golazo
(@CBSSportsGolazo) November 26, 2022
Artinya, Prancis adalah juara bertahan pertama yang terhenti di fase grup Piala Dunia. Setelah Prancis, juara bertahan berikutnya yang gagal lolos dari fase grup adalah Italia di Piala Dunia Afsel 2010.
Di Piala Dunia Brasil 2014, giliran Spanyol, juara dunia 2010 yang terhenti di fase grup. Lalu, di Piala Dunia Rusia 2018, giliran juara bertahan Jerman yang gagal lolos dari fase grup.
Dari 5 edisi terakhir Piala Dunia, 4 juara bertahan terhenti di fase grup. Berulangnya kejadian tersebut membuat orang-orang percaya kalau itu adalah sebuah kutukan. Kutukan yang membuat negara yang memenangkan Piala Dunia terakhir gagal dalam kondisi memalukan untuk mempertahankan mahkota juara dengan tidak lolos dari fase grup.
Herannya, kutukan tersebut hanya berlaku bagi juara bertahan Piala Dunia yang berasal dari benua Eropa. Dan tokoh yang memulai kutukan tersebut adalah Prancis.
Kutukan itu pula yang menghantui Prancis di Piala Dunia Qatar 2022. Les Bleus adalah kampiun Piala Dunia 2018. Sejak 2002, hanya Brasil yang lolos dari kutukan juara bertahan Piala Dunia.
Meski jadi salah satu yang diperhitungkan sebagai favorit juara, tetap saja banyak pihak yang memprediksi Prancis akan terhenti di fase grup. Banyak faktor yang mendukung kutukan juara bertahan Piala Dunia akan kembali terulang di edisi 2022.
Hasil undian fase grup menempatkan Prancis tergabung di Grup D bersama Denmark, Tunisia, dan Australia. Kecuali Tunisia, susunan tersebut adalah pengulangan Grup C Piala Dunia 2018.
Di grup tersebut, Denmark adalah batu sandungan terbesar Prancis. Di dua pertemuan terakhir kedua negara di UEFA Nations League, Prancis dua kali tumbang dari Denmark.
Head to head kedua negara di 2 pertemuan terakhir mereka di Piala Dunia juga berpihak kepada Denmark. Di edisi 2002, Prancis kalah 2-0 dari Denmark. Sementara di edisi 2018, Prancis ditahan imbang Denmark dengan skor 0-0.
Akan tetapi, faktor terbesar yang menghalangi usaha Prancis untuk menghindari kutukan juara bertahan Piala Dunia untuk kedua kalinya adalah badai cedera yang menerjang skuad mereka. Banyaknya pemain kunci yang cedera membuat pilihan Didier Deschamps tergerus.
All of these players are injured and France are still two wins away from defending their World Cup title…
Unreal depth
pic.twitter.com/933O08gquL
— ESPN FC (@ESPNFC) December 10, 2022
N’Golo Kante dan Paul Pogba sudah dipastikan absen jauh sebelum kickoff Piala Dunia. Begitu pula dengan kiper Mike Maignan. Menjelang keberangkatan, Prancis juga kehilangan Christopher Nkunku dan Presnel Kimpembe yang mengalami cedera saat menjalani latihan di Clairefontaine.
Ketika sudah sampai di Qatar, kabar buruk datang dari Karim Benzema. Bomber Real Madrid itu menderita cedera paha yang membuatnya dipastikan absen. Absennya Benzema membuat Piala Dunia tahun ini digelar tanpa kehadiran pemenang Ballon d’Or.
Badai cedera yang dialami Prancis tak selesai di situ. Di laga pertama Grup D melawan Australia, Lucas Hernandez menderita robek ACL di lutut kananya yang memaksanya naik meja operasi dan membuatnya dipastikan absen hingga akhir musim ini.
Namun, dengan kondisi skuad yang pincang, Prancis tetap sanggup menunjukkan kelasnya. Australia mereka lumat dengan skor 4-1. Di pertandingan kedua yang menentukan kontra Denmark, Les Bleus berhasil membalikkan prediksi dan meraih kemenangan dramatis berkat gol Kylian Mbappe yang mengubah skor menjadi 2-1.
Hasil itu membuat Prancis telah mengumpulkan 6 poin dalam dua pertandingan pembuka. Koleksi poin yang tak akan tergoyahkan dan memastikan Les Bleus lolos ke babak 16 besar.
Lolosnya Prancis ke fase gugur tak sekadar mematahkan berbagai prediksi, tetapi juga membuat Prancis terhindar dari kutukan juara Piala Dunia yang mereka ciptakan.
Prancis adalah juara bertahan pertama yang lolos ke fase gugur Piala Dunia sejak Brasil di edisi 2002. Tim Ayam Jantan adalah juara bertahan Piala Dunia pertama dari benua Eropa yang bisa melakukan hal tersebut.
Artinya, lolosnya Prancis ke babak 16 besar Piala Dunia 2022 juga sekaligus mengakhiri kutukan juara bertahan Piala Dunia yang selalu terhenti di fase grup. Lalu, faktor apa yang membuat mereka berhasil mengakhiri kutukan tersebut?
Jawabannya cukup sederhana, tetapi sulit ditiru negara lain. Prancis diberkahi dengan pilihan pemain yang melimpah. Saat ini, mereka tengah dipuji karena regenerasi pemainnya yang luar biasa.
Badai cedera memang menggoyahkan kedalaman skuad mereka. Akan tetapi, Prancis sukses menggantinya dengan beberapa pemain yang tak kalah bagusnya sehingga membuat skuad Les Bleus tampil lebih fresh.
Pos yang ditinggalkan Kante dan Pogba diluar dugaan berhasil diisi dengan apik oleh Aurélien Tchouaméni dan Adrien Rabiot. Sementara posisi Lucas Hernandez sukses digantikan oleh sang adik, Theo Hernandez.
Namun, kekhawatiran soal kedalaman skuad Prancis kembali mencuat saat berjumpa dengan Tunisia. Deschamps merotasi 9 pemain pada starting eleven-nya. Banyaknya perubahan akhirnya membuat Prancis takluk 1-0.
Beruntung, kekalahan tersebut tak mengubah posisi Prancis yang tetap kokoh di puncak klasemen Grup D.
| STANDINGS
Final standings in groups C and D!
Australia and Argentina recorded wins that sent them to the knockout stage, France were already safe before today, while Poland *just* got through.
Round of 16 clashes are:#ARG v #AUS#FRA v #POL #Qatar2022 #FIFAWorldCup pic.twitter.com/okiLRzNnI0
— Sofascore (@SofascoreINT) November 30, 2022
Tak ingin mengulang kesalahan, Deschamps kembali menurunkan skuad terbaiknya di laga 16 besar kontra Polandia. Hasilnya, mereka menang meyakinkan dengan skor 3-1 dan memastikan tiket ke babak perempat final.
Prancis pun kembali mematahkan kutukan. Mereka adalah juara bertahan Piala Dunia pertama yang mencapai perempat final sejak Brasil pada edisi 2006.
Meski menang besar, tetapi keraguan akan kehebatan Prancis belum sirna sepenuhnya. Sebab, lawan mereka sejauh ini hanyalah Australia, Denmark, Tunisia, dan Polandia. Belum ada lawan sepadan.
Inggris pun datang sebagai ujian terberat Les Blues di babak perempat final. Lawan yang lebih dari sepadan, sebab The Three Lions datang dengan status tim tersubur di Qatar.
Namun, dengan keindahan dan sedikit keberuntungan, Prancis berhasil memulangkan Inggris dengan skor 2-1. Hasil akhir yang membuat Prancis mampu mematahkan kutukan yang sudah berlangsung lebih dari 2 dekade. Prancis adalah juara bertahan pertama yang melaju ke semifinal sejak Brasil pada edisi 1998.
France is the first defending champion to advance to semifinals since Brazil in 1998 pic.twitter.com/hdbyTaYhf3
— CBS Sports (@CBSSports) December 10, 2022
Keberhasilan itu tentu tak lepas dari kejeniusan Didier Deschamps dalam meramu skuad dan taktik. Penampilan apik Kylian Mbappe yang jadi calon top skor Piala Dunia 2022 dan Olivier Giroud yang memecahkan rekor pencetak gol terbanyak Les Blues juga memberi andil yang sangat besar.
Deschamps juga harus berterima kasih kepada Antoine Griezmann. Di Piala Dunia ketiganya ini, Griezmann bermain lebih dalam di lini tengah sebagai penghubung gelandang dan penyerang.
Kontribusi terbesarnya bukan gol, tetapi asis. Ada di mana-mana, Griezmann sudah menyumbang 3 asis yang menjadikannya sebagai pemberi asis terbanyak di Qatar. 2 asisnya di laga kontra Inggris juga membuat Griezmann tercatat sebagai pemberi assist terbanyak sepanjang masa timnas Prancis dengan 28 asis.
Kini, setelah memutus dan mengakhiri kutukan serta memecahkan beberapa rekor, Prancis diambang menciptakan sejarah baru. Les Bleus hanya tinggal berjarak 2 pertandingan untuk menjadi juara back-to-back Piala Dunia.
Sejak Brasil melakukannya pada 1962, belum ada negara lain yang dapat mempertahankan trofi Piala Dunia. 60 tahun sudah rekor tersebut bertahan. Lalu, apakah Prancis sanggup memecahkan rekor tersebut dan keluar sebagai juara back-to-back Piala Dunia?
]]>Usai menghajar sang juara EURO 2016, Maroko akan menghadapi juara bertahan Piala Dunia, Prancis di babak semifinal. Duel antara Maroko dan Prancis di semifinal Piala Dunia 2022 menjadi sangat menarik.
Selain memiliki latar belakang yang sama yakni di dominasi pemain keturunan, duel antara Prancis dan Maroko akan menampilkan pertarungan tiada akhir antara kedua punggawa PSG, yakni Kylian Mbappe dan Achraf Hakimi. Siapakah yang akan terakhir tertawa?
Menariknya, laga yang Insya Allah akan berlangsung di Stadion Al Bayt nanti merupakan pertemuan pertama kedua negara di kompetisi resmi. Dilansir Telegraph, di luar kompetisi resmi seperti Piala Dunia, kedua tim tercatat pernah berhadapan sebanyak 11 kali di ajang uji coba.
Statistiknya cukup mencolok dengan Maroko hanya mampu menang satu kali dan Prancis sudah memenangkan duel sebanyak tujuh kali. Tiga pertandingan sisanya berakhir imbang. Kedua tim terakhir bertemu sudah sangat lama, yaitu tahun 2007. Ketika itu Maroko berhasil menangani Prancis dengan menahan imbang 2-2 dalam laga persahabatan.
Retweet
untuk Prancis
Likeuntuk Maroko
#beINFWC2022 pic.twitter.com/B5kaHQrCCS
— beIN SPORTS (@beINSPORTSid) December 11, 2022
Meski secara statistik kalah, skuad Maroko yang akan kembali menghadapi Prancis di Piala Dunia 2022 bukanlah tim yang sama dengan 15 tahun lalu. Kini The Lion of Atlas datang dengan kekuatan baru. Mereka telah berevolusi!
Salah satu evolusi yang paling terlihat adalah soal materi pemain Timnas Maroko. Dalam beberapa tahun terakhir, tim yang pernah dikalahkan Timnas Indonesia pada ajang Islamic Solidarity Games (ISG) pada tahun 2013 itu telah berbenah. Maroko memanggil bakat-bakat terbaik yang tersebar di berbagai belahan dunia, tak terkecuali dari Prancis.
Di Piala Dunia 2022 kali ini, Sportingnews mewartakan kalau 14 dari 26 skuad yang dibawa Walid Regragui merupakan pemain yang lahir di luar Maroko. Hal itu menjadikan Maroko sebagai tim diaspora terbesar di turnamen ini. Bahkan sang pelatih, Walid Regragui bukan kelahiran Maroko, melainkan Prancis.
Yang bikin timnas Maroko ini mengerikan, karena para pemainnya didikan akademi Eropa, tapi dengan mentalitas pengubah nasib ala bocah-bocah imigran. Jadinya skill oke, mental tangguh. pic.twitter.com/W6vApFT9FF
— Ilhamzada (@iIhamzada) December 6, 2022
Dari penjaga gawang, Bono merupakan pemain kelahiran Kanada, Achraf Hakimi lahir di Spanyol dan kemarin memulangkan negara kelahirannya itu melalui sepakan penaltinya. Lalu ada Sofyan Amrabat dan Hakim Ziyech yang lahir di Belanda.
Mereka semua dipanggil untuk membela Maroko. Hal itu memberikan campuran pemain lokal dengan pemain yang skill olah bolanya terbentuk di benua lain. Sehingga membantu timnas Maroko menciptakan generasi baru.
Hal serupa tapi tak sama juga terjadi di kubu Prancis. Dalam perkembangan sepakbolanya, skuad Les Bleus selalu diwarnai oleh pemain-pemain imigran. Mungkin salah satu yang paling sukses ada Zinedine Zidane. Dan saat ini ada Kylian Mbappe, Eduardo Camavinga, Aurelien Tchouameni, sampai Ousmane Dembele pemain yang bukan asli Prancis.
Meski kehadiran pemain-pemain dari luar Prancis itu sempat dipandang sebelah mata, nyatanya para imigran yang menjadi tulang punggung Timnas Prancis hingga kini. Contohnya saja, ketika Prancis menjuarai Piala Dunia 2018, 15 pemain dalam skuad tersebut lahir dari keluarga imigran.
Secara head to head, Les Bleus boleh unggul atas Singa Atlas. Namun apabila yang dijadikan indikator perbandingan adalah performa mereka di ajang Piala Dunia 2022, Maroko asuhan Walid Regragui lebih baik daripada skuad asuhan Didier Deschamp.
Menurut Aiscore, dalam lima pertandingan yang sudah dimainkan oleh masing-masing tim, statistik Maroko masih unggul dengan belum menelan satu pun kekalahan. Sedangkan Prancis sudah menerima satu kekalahan atas Timnas Tunisia di babak penyisihan Grup D. Meskipun di laga itu yang turun bukan skuad utama, tapi kekalahan tetap dihitung kekalahan.
FRANCE ADVANCE TO THE WORLD CUP SEMI-FINALS
pic.twitter.com/dhg3CLTmoe
— GOAL (@goal) December 10, 2022
Masih ada statistik lain yang membuat tim Singa Atlas unggul dari Ayam Jantan. Meski sudah menghadapi tim raksasa macam Spanyol dan Portugal, Maroko jadi satu-satunya tim yang belum pernah dibobol oleh pemain lawan. Satu-satunya gol yang bersarang di gawang Yassine Bounou adalah gol bunuh diri pemain Maroko sendiri, Nayef Aguerd kala menghadapi Kanada di babak penyisihan Grup F.
Sedangkan Timnas Prancis sudah kebobolan lima gol dari lima pertandingan. Meski demikian, nyatanya Prancis tetap superior dalam produktivitas gol. Les Bleus bahkan sudah mencetak 11 gol dalam lima pertandingan. Sedangkan Maroko hanya mampu mencetak lima gol saja.
Dari total jumlah gol yang dicetak Prancis, lima di antaranya lahir dari kaki pemain 23 tahun, Kylian Mbappe. Maka dari itu, penyerang Paris Saint-Germain ini memiliki peran vital di skuad Prancis. Timnas Maroko harus mewaspadai pergerakan mantan punggawa AS Monaco tersebut.
Jika ingin menang dan melaju ke partai puncak, Timnas Maroko harus bisa menghentikan laju Kylian Mbappe. Dan tampaknya, Walid sudah menyiapkan obat penawar untuk meredam kekuatan Kylian Mbappe di sisi kanan.
Taktik dan susunan pemain yang dipilih Walid akan sangat menentukan. Sisi kanan harus diperkuat. Di posisi ini, Walid sudah pasti akan mengandalkan Achraf Hakimi. Terlebih sang pemain juga bermain di klub yang sama dengan Mbappe, jadi Walid akan mengandalkan Hakimi yang sudah paham betul bagaimana gaya bermain Kylian Mbappe.
Selain itu, Hakimi akan dibantu oleh Sofyan Amrabat yang tampil solid dalam beberapa pertandingan terakhir. Ia diprediksi akan bekerja lebih ekstra untuk meredam lini tengah Prancis sekaligus mengover Hakimi apabila sang pemain naik membantu lini serang. Mungkin Amrabat harus mengeluarkan jurus seribu bayangannya lagi seperti saat menghadapi Timnas Spanyol.
Allé, on s’endort sur cette séquence de Sofyan Amrabat mixant le mitar espagnol.
La nuit va être belle, les rêves vont fuser
pic.twitter.com/QiMmc1H1Od
— Ilan Merhaba (@ilan_merhaba) December 7, 2022
Hal serupa juga sudah dilakukan Inggris di babak perempat final kemarin. Strategi tersebut bisa dibilang berhasil, karena Mbappe tak mampu bergerak bebas di area pertahanan Inggris. Namun Southgate lupa bahwa Prancis bukan hanya soal Mbappe. Deschamp masih memiliki pemain andalan lain macam Olivier Giroud dan Antoine Griezmann.
Jika Mbappe terkunci, Giroud dan Griezmann dipercaya untuk memecah kebuntuan. Giroud akan menjadi target man. Sedangkan Griezmann dengan peran barunya di lini tengah bisa membongkar garis pertahanan rendah yang diusung oleh Timnas Maroko. Ia sudah mencatatkan tiga assist dari lima pertandingan Piala Dunia 2022.
Lantas siapa yang akan menang dan mengamankan satu tiket ke partai puncak? Cukup sulit menebak siapa yang akan memenangkan duel antara tim yang sedang ingin mempertahankan gelar juara dengan tim yang dijuluki The Giant Killer ini. Terlebih Piala Dunia 2022 dianggap sebagai kompetisi yang sangat sulit untuk diprediksi.
Statistik dan peta kekuatan di atas kertas hanyalah sebuah data. Bola itu bundar, apa pun masih bisa terjadi selama peluit panjang belum dibunyikan. Jika Dewi Fortuna masih berpihak pada Maroko dan kutukan juara bertahan masih berlaku, bukan tidak mungkin Maroko akan kembali memberi kejutan.
]]>Banyak pemain dari tim yang bertanding di babak perempat final mengaku tidak puas dengan kinerja wasit. Yah bisa saja karena tim mereka kalah, tapi juga bisa karena memang wasit tidak becus dalam memimpin pertandingan. Maka dari itu, mari menilik kembali kontroversi apa saja yang dibuat para wasit di babak perempat final Piala Dunia 2022 ini.
Everyone was talking about referees during the World Cup quarterfinals
pic.twitter.com/cEfEj1H4Y2
— B/R Football (@brfootball) December 11, 2022
Lionel Messi mengaku tidak suka dengan kinerja sag wasit, Antonio Mateu Lahoz di pertandingan melawan Belanda kemarin. Meskipun timnya menang, Messi masih menganggap bahwa Lahoz tidak becus dalam memimpin pertandingan. Ia bahkan meminta FIFA untuk mencoret Lahoz dari daftar wasit Piala Dunia.
Albiceleste menang 4-3 melawan Belanda lewat babak adu penalti, tapi wasit asal Spanyol itu dinilai menimbulkan kontroversi dalam cara ia memimpin pertandingan. Laga Argentina vs Belanda memang bukanlah pertandingan biasa bagi sang wasit. Ini laga penuh tensi tinggi dan emosi. Lahoz bahkan harus mengeluarkan 16 kartu kuning selama pertandingan. Setelah laga Messi menyindir Lahoz.
Ia berkata “Saya tidak ingin berbicara tentang wasit. Sebab setelah itu pasti wasit akan memberikan sanksi kepada saya. Tapi orang-orang sudah melihat apa yang terjadi” ungkapnya
Setelah itu, Messi menginginkan FIFA untuk mengurus hal tersebut. Messi menganggap bahwa Lahoz tidak pantas untuk memimpin pertandingan sekelas Piala Dunia. Sebab, seorang wasit di Piala Dunia tidak boleh melakukan kesalahan.
“Saya pikir FIFA harus mengatasi masalah ini. Tidak bisa membiarkan wasit seperti itu untuk memimpin pertandingan sepenting ini, Wasit tidak boleh salah dalam melakukan tugasnya.”
Kekecewaan Messi bisa dimengerti. Ia pasti marah ketika Belanda bisa mencetak gol penyeimbang dari Wout Weghorst. Gol tersebut bermula dari tendangan bebas setelah German Pezzella dinilai telah melakukan pelanggaran. Messi dan pemain Argentina lain menganggap itu bukanlah sebuah pelanggaran.
Messi dan pemain lainya tentu tidak ingin melanjutkan permainan sampai ke babak adu penalti. Meskipun begitu, pasukan Albiceleste mampu menuntaskan tugas mereka di babak adu penalti. Emiliano Martinez yang menjadi pahlawan di babak adu penalti tersebut juga mengatakan bahwa sang wasit “tidak berguna”. Dirinya juga berharap tidak ada wasit seperti Lahoz lagi di pertandingan selanjutnya.
“Wasit tidak berguna. Semoga saja kita tidak dipimpin wasit seperti dia lagi. Hal pertama yang saya rasakan adalah emosi. Saya melakukan ini untuk 45 juta orang yang mendukung” Ungkapnya dikutip dari BeinSport.
Kontroversi oleh wasit di pertandingan babak perempat final yang tak kalah panas juga terjadi di laga Portugal melawan Maroko. Ini laga yang tidak kalah seru dibanding Argentina vs Belanda. Striker Maroko, Youssef En-Nesyri mencetak satu-satunya gol di pertandingan tersebut melalui gol sundulannya. Sekaligus membuat Maroko mencetak sejarah sebagai tim Afrika pertama yang bisa sampai ke semifinal Piala Dunia.
Portugal sebenarnya punya banyak peluang tapi tidak bisa memaksimalkannya menjadi gol. Sampai Maroko bermain dengan 10 orang, Bruno Fernandes CS tidak mampu menyamai keunggulan. Mungkin ini alasan utama yang membuat para pemain Portugal frustasi dan menyalahkan wasit atas kekalahan mereka.
Seusai laga, Pepe yang kemungkinan menjalani pertandingan Piala Dunia terakhirnya itu memberikan komentar pedas terhadap hakim lapangan. Ia berdalih bahwa wasit terlalu sering menghentikan permainan sehingga Portugal tidak bisa menciptakan momentum untuk menyerang.
“Saya pikir apa yang dilakukan wasit hari ini sangat tidak bisa diterima. Kami tidak bisa bermain karena wasit selalu meniup peluit untuk memberhentikan permainan. Tidak ada permainan untuk kami. Selalu saja diberhentikan.” Pepe juga berdalih kalau sang wasit, Facundo Tello melakukan hal itu karena dirinya adalah orang Argentina. Pepe menuduh Tello sengaja membiarkan Portugal kalah agar Argentina bisa juara Piala Dunia.
“Es inadmisible que un árbitro argentino nos pitara hoy después de lo que sucedió ayer, con Messi quejándose. Después de lo que vi hoy, le pueden dar ya el título a Argentina"
Pepe, tras la eliminación de Portugal.
pic.twitter.com/6pncvDPDcY
— Pablo Giralt (@giraltpablo) December 10, 2022
“Setelah apa yang saya lihat hari ini, sekarang ia bisa memberikan gelar itu kepada Argentina” Ungkapnya dikutip dari Sportbible.
Bruno Fernandes bahkan ngamuk setelah pertandingan selesai. Para staf dari federasi sepakbola Portugal berusaha menenangkannya tapi ia tidak mau menggubris itu. Ia mempertanyakan mengapa wasit asal negara yang masih berpartisipasi menjadi wasit di pertandingan mereka.
“Saya akan berbicara apa yang saya ingin. Persetan dengan mereka, ini sangat aneh kenapa FIFA menggunakan wasit dari negara yang sedang berpartisipasi di Piala Dunia. Para ofisial juga tidak pernah memimpin pertandingan liga Champions sebelumnya, bagaimana mereka bisa mereka memimpin pertandingan Piala Dunia.”
Bruno tentu pantas marah. Apalagi setelah ia tidak dihadiahi penalti meskipun terkena pelanggaran di babak pertama.
Selain Portugal, Inggris yang menjadi korban dari Prancis juga menyalahkan wasit atas kekalahan mereka. Wasit yang memimpin laga tersebut, Wilton Sampaio tidak lepas dari kontroversi. Yang paling dipermasalahkan adalah saat Tchouameni mencetak gol untuk Prancis. Anak asuh Southgate tidak terima karena seharusnya gol tersebut tidak sah setelah Bukayo Saka dilanggar 45 detik sebelumnya.
Bek Manchester United, Harry Maguire berkomentar setelah pertandingan, bahwa apa yang terjadi pada Bukayo Saka adalah pelanggaran jelas. Tapi Wasit tidak memberikan keputusan yang tepat.
“Yang terjadi pada Bukayo Saka adalah jelas pelanggaran, ketika mereka akan mencetak gol. Kami berekspektasi wasit melakukan hal yang tepat. Tapi sayangnya tidak.”
“Saya pikir keputusan wasit di pertandingan ini sangat buruk. Dia harus keluar dan memberikan penjelasan apa yang terjadi di pertandingan ini.” Ungkap Maguire
Maguire juga mengaku bahwa sebenarnya Inggris bermain lebih baik daripada Prancis. Tapi mereka tidak bisa menang karena wasit yang membela Prancis.
“Dengar, kami bermain lebih baik daripada mereka. Saya pikir penonton yang netral, kan berkata bahwa kami mendominasi jalannya pertandingan. Tapi wasit malah melawan kami. Banyak keputusan penting yang merugikan kami. Itu lah kenapa mereka bisa jadi juara. Itulah mengapa mereka menjadi tim favorit di turnamen ini.”
Inggris sebenarnya punya kesempatan untuk menyamai skor. Inggris mendapatkan hadiah penalti kedua di pertandingan tersebut. Tapi Harry Kane yang sukses menjadi eksekutor untuk gol pertama, malah tidak bisa menyamai keunggulan. Dengan hasil itu Inggris pun harus pulang.
]]>Satu gol dari Youssef En-Nesyri sudah cukup untuk mengirim pulang Cristiano Ronaldo ke daratan Eropa. Yahia Attiyat Allah mempermudah jalan Nesyri dalam mencetak gol melalui umpannya di menit ke-42′.
Kesalahan antisipasi dari Diogo Costa membuat bola langsung disambar begitu saja oleh Nesyri. Keunggulan Maroko bertahan hingga waktu normal berakhir. Dengan ini, Maroko mencatatkan sejarah baru sebagai tim Afrika pertama yang berhasil lolos ke semifinal di Piala Dunia.
Dalam pertandingan ini, Portugal tidak menyelesaikan pertandingan tanpa peluang. Tiga dari 12 tembakan berhasil menemui sasaran, namun lagi-lagi kiper Yassine Bounou tampil impresif. Ia berhasil menggagalkan ketiga peluang yang didapat oleh Portugal.
Kredit juga patut disematkan kepada gelandang Maroko, Sofyan Amrabat. Pemain Fiorentina tersebut tampil kokoh dengan 100% tekel sukses untuk mengawal lini tengah negaranya tersebut. Pemain penting dalam dua laga terakhir yang dijalani Maroko.
Secara penguasaan bola, Portugal unggul 74% dengan Maroko yang hanya memiliki angka sebesar 26%. Tetapi, Maroko jelas bermain lebih efektif daripada Cristiano Ronaldo Cs. Dengan possesion yang hanya segitu, Maroko berhasil melepaskan tiga dari sembilan tembakan yang mengarah ke gawang.
Racikan pelatih Maroko, Walid Regragui lagi-lagi membuat lawannya berat kepala. Sedari menit awal, Portugal tampak kebingungan untuk membongkar pertahanan Maroko. Strategi ini mirip seperti yang digunakannya tatkala menyingkirkan Rodri dkk.
Serangan balik dari Maroko juga ternyata sangat mematikan. Permainan rapi dengan kedisiplinan yang tinggi membuat Maroko bisa melaju sejauh ini. Pekerjaan rumah mereka saat ini mungkin untuk memperbaiki finishing.
Alasannya karena Maroko sebenarnya bisa memenangkan laga versus Portugal dengan skor lebih dari satu gol. Tapi kemenangan sudah didapat, saatnya Maroko merayakan sejarah mereka, terlebih karena kemenangan itu mereka berhasil dapat dengan mengusir para negara yang pernah menjajah mereka.
]]>Di babak pertama laga berjalan cukup ketat. Inggris sedikit unggul dalam penguasaan bola, jumlah tembakan dan penciptaan peluang. Hanya saja Perancis unggul dalam hal efektivitas permainan. Sadar The Three Lions punya track record buruk ketika ketinggalan di babak pertama, Prancis akhirnya bisa memanfaatkannya dengan mencuri gol terlebih dahulu lewat tendangan dari luar kotak penalti Tchouameni pada menit ke-17.
Di babak kedua Inggris langsung tancap gas. Total 11 tembakan dan 2 peluang emas yang berhasil diciptakan oleh Harry Kane dkk. Akhirnya di menit ke-54 Kane bisa menyamakan kedudukan 1-1 lewat gol dari titik putih. Satu golnya ke gawang Lloris membuatnya menyamai rekor gol terbanyak Inggris milik Rooney dengan 53 gol.
Meskipun memegang kendali permainan Inggris payah dalam hal konversi peluang. Dengan xG sebesar 3.23, anak asuh Gareth Southgate hanya mampu mencetak 1 gol. Sementara Les Bleus meski hanya mendapat 2 peluang emas, mereka kembali bisa mencetak gol lewat tandukan Olivier Giroud di menit ke-73 memanfaatkan umpan Griezmann.
Gol Giroud tersebut semakin mengukuhkan dirinya sebagai striker tertajam Prancis dengan 52 gol. Inggris sebetulnya punya kesempatan menyamakan kedudukan lewat penalti yang didapat Kane di menit ke-84, tapi gagal. Walhasil skor 2-1 tidak berubah hingga laga berakhir. Kekalahan ini merupakan hasil buruk untuk kali ketujuh bagi Inggris selama berlaga di babak perempat final. Dan membuat Tim Tiga Singa menjadi tim yang paling sering gagal ketika berlaga di fase tersebut.
]]>Brasil sudah terlihat frustasi dari menit awal. Permainan yang rapi dari trio gelandang Kroasia, Marcelo Brozovic, Mateo Kovacic, dan Luka Modric memaksa kedua tim bermain imbang tanpa gol sampai 90 menit waktu pertandingan berjalan. Ditambah penampilan apik kiper Kroasia, Dominik Livakovic.
Masuk ke babak perpanjangan waktu, Brasil mulai beraksi. Neymar mencetak gol di penghujung babak pertama tamahan waktu. Dengan gol itu, Neymar menyamai rekor Pele sebagai pencetak gol terbanyak tim nasional Brasil. Tapi mereka tidak bisa merayakannya lebih lama lagi. Di babak kedua perpanjangan waktu Bruno Petkovic menyamakan kedudukan Kroasia menjadi satu sama.
Pertandingan pun dilanjutkan ke babak adu penalti. Semua empat penendang penalti dari Kroasia sukses menuntaskan tugas mereka dengan baik. Sementara untuk Brasil, tendangan dari Rodrygo mampu ditepis oleh Livakovic. Dan tendangan penentu dari Marquinhos malah membentur mistar gawang.
Dengan kemenangan ini, Kroasia tidak pernah gagal melaju ke perempat final. Sejak kembali menjadi anggota FIFA di tahun 1992 setelah mendapatkan kemerdekaan mereka, tim negara balkan itu tidak pernah gagal dalam kesempatan melangkah ke semifinal. Tercatat sudah tiga kali Kroasia melaju ke perempat final, dan tiga kali mereka melangkah ke semifinal.
Seharusnya Brasil mengerahkan seluruh tenaga mereka, jangan sampai pertandingan berlanjut ke babak adu penalti. Sebab, Kroasia sudah dikenal sebagai rajanya adu penalti di turnamen empat tahunan ini. Ya selain tim dengan baju kotak-kotak itu tidak pernah gagal di perempat final, dua dari tiga mereka jalani dengan babak adu penalti.
Mereka juga melangkah sampai ke babak semifinal di Piala Dunia 2018 berkat adu penalti. Dan sekarang Modric CS melakukannya lagi dengan sempurna. Kroasia bahkan sudah memenangkan empat pertandingan babak adu penalti terakhir dalam dua edisi Piala Dunia.
Empat tahun lalu, di Piala Dunia 2018 Kroasia menang melawan denmark di babak 16 besar lewat babak adu penalti. Lalu menaklukan negara tuan rumah, Rusia di babak perempat final juga dengan adu penalti. Sekarang, mereka mengalahkan Jepang dan Brasil dengan cara yang sama.
Entah apa yang membuat Kroasia jago dalam adu penalti. Tapi ini bisa jadi karena sejarah dan kultur sepak bola yang diturunkan dari generasi ke generasi. Dulu, sebelum Liga Yugoslavia diberhentikan pada tahun 1992, mereka punya peraturan yang cukup unik.
Tim-tim yang bermain dalam liga tersebut tidak mengenal hasil imbang. Mereka akan lanjut ke babak adu penalti untuk menentukan pemenangnya. Di liga tersebut, tim pemenang mendapatkan dua poin sedangkan tim yang menang dengan adu penalti akan mendapatkan satu poin.
Mungkin nilai sejarah dan budaya ada pengaruhnya mengapa Kroasia jadi sangat jago adu penalti. Tapi yang pasti mengapa Kroasia bisa mengalahkan Brasil di Piala Dunia ini adalah karena tembok bernama Dominik Livakovic yang menjaga gawang pasukan vatreni.
Berdasarkan data dari OptaJose, Dominik Livakovic sudah melakukan empat kali penyelamatan penalti di Piala Dunia. Itu adalah rekor yang dicatatkan Livakovic. Ia jadi penjaga gawang yang paling banyak melakukan penyelamatan penalti dalam sejarah Piala Dunia.
4 – Dominik Livakovic has saved four penalties during World Cup penalty shoot-outs, the joint-most of any goalkeeper in the tournament's history. Prescience. pic.twitter.com/T3BJlDCQ37
— OptaJoe (@OptaJoe) December 9, 2022
Dibalik kehebatannya dalam adu penalti, Livakovic membeberkan rahasianya. Rahasia ini ia beberkan ketika Kroasia membuat Moriyasu minta maaf di babak 16 besar kemarin. Livakovic berkata bahwa ia lebih mengandalkan kepada perasaan.
“Saya pikir ketika babak adu penalti berjalan, ini lebih tergantung kepada feeling. Tapi tentu saja disertai dengan data analisis dari para pemain yang menendang penalti”
Penampilan Livakovic memang luar biasa. Selain di babak adu penalti, ia juga kokoh menjaga gawang selama jalannya pertandingan. Ia berhasil menyelamatkan 11 tendangan Brasil dalam waktu 120 menit pertandingan. Membuat anak asuh Tite frustasi.
Ia juga ternyata punya prestasi mentereng di level klub. Livakovic adalah bagian penting Dinamo Zagreb merengkuh gelar Liga lima kali berturut-turut. Pencapaiannya itu juga membuat Livakovic dinobatkan sebagai penjaga gawang terbaik Kroasia selama empat tahun. Yaitu di tahun 2019, 2020, 2021, dan 2022.
Selain Livakovic, yang menjadi rahasia Kroasia bisa mengalahkan Brasil adalah strategi Brasil itu sendiri. Strategi yang dimaksud adalah menempatkan Neymar sebagai eksekutor penalti kelima Brasil. Ini malah jadi senjata makan tuan. Neymar justru tidak sempat menendang pinalti setelah dua tendangan dari rekannya gagal.
Legenda Jerman, Jurgen Klinsmann juga mempertanyakan hal itu. Ia menganggap untuk situasi babak adu penalti, kan lebih baik jika pemain terbaik maju sebagai penendang pertama. Alasan utama adalah, dengan begitu bisa mengatur nada dan ketenangan bagi para penendang selanjutnya.
“Kalau saya, akan menempatkan Neymar sebagai penendang pertama. Dengan begitu anda bisa mengatur nadanya. Jangan taruh dia sebagai penendang kelima. Karena mungkin kesempatan itu tidak akan datang.”
Perkataan Klinsmann itu bisa dibuktikan langsung pada pertandingan yang lain antara Argentina melawan Belanda. Pertandingan itu juga berakhir lewat babak adu penalti. Tapi Argentina bisa dengan mantap menang adu penalti setelah menempatkan Messi sebagai eksekutor pertama.
Sebelumnya Argentina juga melakukan strategi yang sama. Yaitu pada Copa America tahun 2021. Di laga semifinal melawan Kolombia, pertandingan berlanjut sampai babak adu penalti. Lionel Messi maju sebagai eksekutor pertama dan memimpin Argentina menuju kemenangan.
Meskipun begitu pelatih Brasil, Tite punya alasan tersendiri mengapa menjadikan Neymar sebagai penendang kelima. Ia beralasan bahwa pemain yang lebih siap pada saat itu yang harus menendang terlebih dahulu.
“Neymar adalah penendang kelima dan menjadi penendang penentu. Ada banyak tekanan bagi para pemain yang punya kemampuan lebih. Yang paling siap harus mengambil tendangan penalti itu”
Tite juga menyangkal kekalahan timnya dikarenakan strategi penalti itu. Ia mengatakan bahwa kekalahan Brasil murni diakibatkan karena disorganisasi yang mereka alami selama jalannya pertandingan.
“Satu-satunya kesalahan yang kami buat adalah kami tidak mencetak gol lebih banyak daripada Kroasia. Kami tidak mampu mencetak lebih dari satu gol selama pertandingan”
Tite kemudian mengundurkan diri menyusul kekalahan atas Kroasia ini. Meskipun begitu, ia mengaku bahwa keputusan ini sudah ia pikirkan jauh-jauh hari. Tite pernah mempersembahkan Copa America tahun 2019. Itu jadi Trofi bergengsi satu-satunya bersama Brasil. Dan selebihnya, lebih banyak cerita kekecewaan yang ia ukir bersama selecao.
Sementara itu, Kroasia selanjutnya akan berhadapan dengan Argentina di babak semifinal. Kroasia pernah membantai Argentina di Piala Dunia edisi sebelumnya. Meskipun begitu, Argentina masih diunggulkan untuk pertandingan nanti. Kuncinya, Messi CS harus mengalahkan Kroasia di 90 atau 120 menit pertandingan. Jika sampai ke babak adu penalti, keadaan bisa jadi sulit untuk Albiceleste.
]]>Maka dari itu, hal-hal yang berkaitan dengan Piala Dunia akan selalu menarik untuk diulas. Orang-orang akan cenderung mencari informasi soal Piala Dunia 2022 Qatar. Pesta seakbar Piala Dunia pun tidak terlepas dari fakta-fakta di baliknya.
Ada fakta yang sudah terbongkar, ada pula fakta yang boleh jadi belum diketahui banyak orang. Berikut ini adalah beberapa fakta tersembunyi Piala Dunia 2022, yang mungkin kamu nggak tahu.
Piala Dunia 2022 yang akan berlangsung di Qatar nanti adalah Piala Dunia edisi ke-22. Yang menarik ternyata Qatar, negara tuan rumah, sebelumnya tidak pernah bermain di Piala Dunia. Yap, benar sekali. Qatar adalah satu-satunya tuan rumah Piala Dunia yang belum pernah lolos ke Piala Dunia.
Dengan kata lain, ini adalah untuk pertama kalinya Piala Dunia digelar di negara yang belum pernah mencicipi ajang tersebut. Federasi sepakbola Qatar atau QFA sendiri sebetulnya sudah berdiri sejak tahun 1960. QFA terdaftar sebagai anggota FIFA tahun 1963.
Sejak saat itu tim nasional Qatar sudah berusaha untuk lolos ke Piala Dunia. Namun usaha Al-Annabi menemui jalan buntu. Qatar selalu gagal ke Piala Dunia. Nah, edisi kali ini Qatar sebagai tuan rumah tidak perlu capek-capek melewati fase kualifikasi. Mereka sudah otomatis lolos ke Piala Dunia.
Piala Dunia 2022 Qatar memang disebut-sebut sebagai Piala Dunia termewah dan termahal. Kabarnya Qatar menghabiskan 200 miliar dolar atau sekitar Rp3,1 kuadriliun untuk mempersiapkan Piala Dunia 2022. Meski begitu, ternyata venue yang dipakai tidak banyak.
Bahkan Piala Dunia 2022 menjadi Piala Dunia dengan stadion paling sedikit sepanjang sejarah FIFA sejak 1978. Piala Dunia Qatar hanya menggunakan delapan stadion. Itu pun hanya ada satu yang benar-benar sudah ada dan direnovasi ulang. Sementara tujuh sisanya baru dibangun.
Tahun 1978, Argentina pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia dengan hanya enam stadion. Sebagai perbandingan saat Piala Dunia 2010, Afrika Selatan memakai 10 stadion. Di Piala Dunia 2014 dan 2018, baik Brasil maupun Rusia memakai 12 stadion.
The venue are ready teams are ready gFIFA world cup who is your favourite country to win this troupy l go with Brazil this time pic.twitter.com/HwYIzVcRWx
— Letslot Hlomela
(@LetslotH) November 18, 2022
Qatar mencatatkan rekor sebagai negara terkecil yang menjadi tuan rumah Piala Dunia. Luasnya hanya 11.571 kilometer persegi. Karena luasnya yang kecil, akses transportasi di Qatar sangatlah mudah. Untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain bukan masalah.
Kota tuan rumah Piala Dunia seperti Lusail, Al Wakrah, Al Rayyan, dan Doha jaraknya sangat berdekatan satu sama lain. Ini sangat memudahkan bagi pelancong yang ingin menikmati atmosfer Piala Dunia langsung di tanah Qatar.
#Karwa disinfect their taxis daily so you can ride with ease. #Mowasalat #Taxi #Qatar pic.twitter.com/JgWcXi0aVf
— Gulf-Times (@GulfTimes_QATAR) January 26, 2021
Ada dua stadion yang meski terpencil, jaraknya hanya 90 mil atau sekitar 144 kilometer. Stadion itu adalah Stadion Al Bayt dan Al Wakrah. Pelancong bisa menggunakan banyak moda transportasi.
Misalnya Karwa Taxi yang bisa membantu pendatang untuk pergi dari satu tempat ke tempat lain. Ada pula Metro Doha, sebuah layanan kereta yang menghubungkan semua tempat untuk Piala Dunia. Bagaimana? Tertarik berkunjung ke Qatar?
Piala Dunia 2022 menjadi Piala Dunia pertama yang dihelat di negara Muslim atau Timur Tengah. Budaya-budaya Islam pun menyatu dalam gelaran Piala Dunia 2022, termasuk soal minuman beralkohol. Baru-baru ini Qatar kabarnya melarang peredaran bir di stadion Piala Dunia.
Namun Qatar sudah menyediakan fan zone. Sebuah tempat yang dibuat khusus untuk penggemar sepakbola dari berbagai negara. Para penggemar yang biasa minum bir dan sebangsanya bisa membelinya di fan zone. Harga alkohol di zona penggemar juga lebih murah.
BEER
will be sold in Qatar during FIFA World Cup Qatar 2022.
– 3 hours before kickoff, 1 hour after final whistle, but not during the match. Beer will be served in main Doha fan zone from 6:30pm-1am.#Puyaka pic.twitter.com/g90mZLJYTx
— Cosmos ChukwuEmeka (@Mrcosmos19) September 3, 2022
Beberapa laporan menyebut harganya berkisar 7-8 poundsterling per liter atau sekitar Rp130 ribu. Meski begitu laporan teranyar menyebut harga bir Budweiser yang sudah bekerja sama dengan Piala Dunia, mencapai 11 poundsterling atau sekitar Rp205 ribu.
Fakta yang semua orang tahu adalah Piala Dunia 2022 menjadi Piala Dunia pertama yang berlangsung di musim dingin, pertengahan musim kompetisi, dan berlangsung di negara dengan cuaca yang panas. Qatar, sebagai negara Timur Tengah memang memiliki suhu yang tinggi.
Belakangan suhu di Qatar mencapai 29 derajat celcius. Itu bisa meningkat sampai 40 derajat. Lantaran banyak peserta Piala Dunia yang tidak terbiasa dengan suhu tinggi, maka Qatar pun mengupayakan agar seluruh stadion yang dipakai menggunakan AC.
Total delapan stadion yang digunakan semuanya ber-AC. Qatar menjamin kenyamanan bagi para peserta Piala Dunia, termasuk penggemar yang datang menonton langsung.
First of it's kind in @FIFAWorldCup history. Qatar stadium AC in readiness for real competition in November- December of 2022. Simply nothing is impossible. pic.twitter.com/iZE7BvBAgY
— Oyewole Odebunmi (@Footballmatics) April 1, 2022
Oleh karena berada di musim dingin dan pertengahan kompetisi, sudah pasti Piala Dunia di Qatar akan jadi Piala Dunia terpendek, yaitu hanya 28 hari. Selain fakta itu, ada fakta lain yang sangat menarik. Yup, Piala Dunia 2022 akan menjadi Piala Dunia pertama tanpa Ratu Elizabeth II.
Ratu Elizabeth II lahir pada tahun 1926. Sementara Piala Dunia untuk pertama kalinya digelar pada tahun 1930. Sang ratu sendiri memiliki hubungan dekat dengan Piala Dunia FIFA. Ia hadir di beberapa edisi.
Queen Elizabeth II presenting the 1966 World Cup trophy to England captain Bobby Moore.
pic.twitter.com/ZREjqrZ2a1
— Football Tweet
(@Football__Tweet) September 8, 2022
Namun, untuk edisi tahun ini, Ratu Elizabeth II tidak akan terbang ke Qatar. Bukan karena ia tak sudi menginjakkan kaki ke tanah Arab. Ini lebih karena Ratu Elizabeth II telah meninggal dunia. Sang ratu meninggal pada 8 September 2022 lalu.
Qatar adalah negara ketiga di Benua Asia yang menjadi tuan rumah, setelah Jepang dan Korea Selatan. Well, faktanya ini adalah Piala Dunia kedua yang berlangsung di Benua Kuning. Tahun 2002, ketika Brasil meraih titel, Piala Dunia berlangsung di dua negara di Asia.
Ketika itu, Korea Selatan dan Jepang menjadi tuan rumah bersama. Dan untuk pertama kalinya Piala Dunia tersebut berlangsung di Asia. Kini Asia kembali punya hajat menggelar Piala Dunia untuk kedua kalinya.
Benua Asia memang ketiban berkah pada Piala Dunia edisi tahun ini. Selain jadi tuan rumah, edisi ini untuk pertama kalinya Piala Dunia diikuti enam wakil dari Asia. Keenam wakil itu adalah Arab Saudi, Qatar, Iran, Korea Selatan, Jepang, dan Australia.
Pada Piala Dunia 2018, Asia hanya mengirim lima wakilnya. Sementara pada tahun 1998 ada empat negara Asia yang berpartisipasi di turnamen empat tahunan tersebut.
Belum lama ini FIFA telah mengeluarkan daftar wasit yang akan memimpin Piala Dunia 2022. Menariknya, akan ada tiga asisten wasit perempuan dan tiga wasit perempuan. Ini menjadi menarik, karena untuk kali pertama Piala Dunia pria akan dipimpin oleh wasit perempuan.
Tiga wasit perempuan yang akan memimpin Piala Dunia 2022 antara lain Stephanie Frappart dari Prancis, Salima Mukansanga dari Rwanda, dan Yoshimi Yamashita dari Jepang. FIFA melakukan ini karena untuk menginspirasi wasit perempuan di seluruh dunia.
This is the first time female referees will lead matches in men's football's biggest tournament.
FIFA named three female referees and three female assistant referees among the total 35 officials selected to officiate at the Qatar 2022 World Cup.#FIFAWorldCup #Qatar2022 pic.twitter.com/sK5Ae7Kr8c
— sportsworld (@sportsworld011) November 17, 2022
Fakta terakhir di Piala Dunia 2022 adalah tidak ada tim debutan di Piala Dunia yang berangkat dari babak kualifikasi. Padahal setiap tahunnya akan selalu ada tim debutan dari babak kualifikasi. Misalnya di Piala Dunia 2018. Ketika itu Panama jadi tim debutan.
Piala Dunia 2022, selain Qatar tidak ada tim debutan. Qatar menjadi tim debutan di Piala Dunia, tapi mereka bukan dari babak kualifikasi, melainkan lolos otomatis karena tuan rumah.
]]>Namun sebaliknya, justru banyak para pemain yang tak terlalu moncer bahkan jarang bermain reguler di level klub, eh malah dipanggil. Hal inilah yang terkadang membuat kita terheran-heran dan ingin tahu parameter apa sih yang digunakan para pelatih ketika memanggil para pemain ke timnas.
Nah berikut ini adalah pemain sepakbola yang tak disangka ternyata masih dipanggil untuk Piala Dunia 2022.
Pertama ada Daniel Alves. Bek kanan kawakan asal Brazil yang sudah berusia 39 tahun. Aneh, ketika seorang yang sudah sangat berumur dan berposisi sebagai bek kanan masih harus dipanggil ke Piala Dunia.
At the age of 39, Dani Alves will become the oldest player in Brazil’s history to play at a World Cup
![]()
Djalma Santos previously held the record at 37 years old from the 1966 World Cup.
: CHARLY TRIBALLEAU (Getty Images) pic.twitter.com/hFg3Y06ROT
— Sports Brief (@sportsbriefcom) November 8, 2022
Pengalaman memang tak bohong. Namun dia seusai terakhir kali bermain di Barcelona, fisiknya sudah tak seprima dulu. Sekarang, di Liga Meksiko pun ia juga tak sepenuhnya prima.
Namun jika menilai alasan kenapa Tite memanggilnya, dapat ditemui dua alasan. Yang pertama, mungkin nanti posisi Alves akan lebih bermain sebagai gelandang tengah seperti apa yang sering ia lakukan di klubnya sekarang. Mengingat di posisi itu, fisiknya masih bisa terjaga daripada sebagai seorang bek kanan.
Dan yang kedua, kita tahu sendiri kelemahan Selecao di Piala Dunia kali ini. Ya, mereka krisis bek sayap. Dan mungkin Dani Alves adalah nama yang terpaksa disiapkan sebagai pelapis di posisi itu.
Berikutnya ada bek Uruguay, Diego Godin. 36 tahun usianya. Ia masih saja dipanggil Timnas Uruguay di Piala Dunia kali ini. Pertanyaanya, di mana dia bermain sekarang? Apakah masih berada di level prima untuk menggalang pertahanan La Celeste?
Performa Godin mulai menurun sejak musim 2021/2022. Ketika ia kehilangan tempat di tim utama Cagliari. Setelah itu, Godin bermain untuk Atletico Mineiro dan Velez Sarsfield. Godin tidak bermain reguler di dua klub tersebut. Bahkan di Velez klubnya sekarang, ia baru memainkan 8 laga. Ia juga sudah lama dibekap cedera sejak bulan Agustus sampai Oktober yang lalu.
El defensor de #Vélez, Diego Godin, fue convocado por Diego Alonso en la Selección de Uruguay para disputar #Qatar2022
.
El histórico central disputará su cuarto mundial con el país charrúa. pic.twitter.com/jUlK8RYBwN
— Velez670 (@velez670) November 10, 2022
Meskipun sudah ada regenerasi macam Araujo maupun Jose Gimenez nampaknya pelatih muda Uruguay, Diego Alonso masih takut meninggalkan para bintang tua mereka termasuk Godin. Mungkin karena alasan pengalaman dan mental. Boleh jadi Godin ini hanya akan jadi mentor bagi para pemain muda di ruang ganti.
Kemudian ada Pablo Sarabia dan Ferran Torres di Timnas Spanyol. Memang kedua gelandang serang ini umurnya tergolong belum uzur. Namun dari segi performa di level klub, sepertinya tergolong biasa saja.
Sarabia berada di PSG di bawah bayang-bayang Trio Messi-Mbappe-Neymar. Dari 16 pertandingan yang ia mainkan, ia selalu masuk sebagai pemain pengganti. Menit bermainnya pun tak banyak, total hanya 487 menit dari 16 laga. Dengan tanpa assist dan gol.
Don Pablo Sarabia bendecido por dios pic.twitter.com/tm98BIhM8j
—
(@_lvan04) November 13, 2022
Sementara Ferran Torres di Barcelona juga hampir sama. Kedatangan Lewandowski, Raphinha maupun kembalinya Dembele dan Ansu Fati dari cedera membuat ia terganggu untuk tampil reguler. Ferran hanya bermain 18 kali dan tidak selalu menjadi reguler. Performanya pun tak terlalu mentereng.
The most thrilling journey is awaiting
#MundialQatar2022 #FIFAWorldCup #VamosEspaña pic.twitter.com/AoiTNw2AOy
— Ferran Torres (@FerranTorres20) November 11, 2022
Namun begitu, Enrique tetap membawa mereka untuk dijadikan kunci di permainan sayap La Furia Roja. Nampaknya Enrique sudah kadung percaya dan nyaman bekerja sama dengan keduanya. Terbukti sejak di Euro 2020 yang lalu.
Yang berikutnya ada striker Denmark, Youssuf Poulsen. Denmark padahal tak kekurangan striker. Masih ada Lord Braithwaite, Cornelius, Dolberg, maupun Skov Olsen yang lagi moncer bersama Club Brugge.
Poulsen ini sudah lama performanya anjlok dan baru sembuh dari cedera. Poulsen juga kehilangan tempat di starting eleven Leipzig musim ini. Tujuh kali dimainkan, enam kali sebagai pengganti. Bahkan ia belum pernah mencetak gol satu pun di musim ini.
Sisi pengalaman dan kenyamanan bekerja sama di Euro 2020 lalu, mungkin menjadi alasan pelatih Tim Dinamit, Kasper Hjulmand masih memanggilnya.
RB Leipzig striker Yussuf Poulsen and Brentford's Christian Norgaard have been named in Denmark's squad for the World Cup as coach Kasper Hjulmand added the final five players to his line-up for the finals in Qatar. https://t.co/yjLQoqKTBF
— Reuters Sports (@ReutersSports) November 14, 2022
Lalu ada Sadio Mane dan Paulo Dybala. Dua pemain pesakitan yang terpaksa dibawa ke Piala Dunia, entah apa tujuannya. Mungkin masing-masing negaranya berharap akan ada keajaiban mereka berdua masih bisa sembuh sewaktu-waktu ketika di Piala Dunia nanti. Namun jika tidak bagaimana?
Senegal announce Sadio Mané will miss the World Cup
pic.twitter.com/SmO4ue47iI
— B/R Football (@brfootball) November 17, 2022
Sadio Mane kita tahu adalah maskot bagi timnas Senegal. Kehadirannya walaupun tak bermain, akan tetap menjadi pengaruh bagi rekan-rekannya di Qatar nanti. Sedangkan Dybala performanya juga masih moncer bersama Roma. Bagaimanapun kalau bisa sembuh di tengah kompetisi, performa Dybala juga masih bisa diandalkan La Albiceleste.
BREAKING: Paulo Dybala is in the Argentina squad for the World Cup! pic.twitter.com/4G9yRcKuP2
— Italian Football TV (@IFTVofficial) November 11, 2022
Kemudian ada Luuk De Jong, striker jangkung Belanda yang usianya sudah 32 tahun. Dengan stok striker Belanda yang sebenarnya melimpah dan muda-muda, namanya masih saja masuk skuad. Padahal di PSV pun, ia tak menjadi pemain inti. Cederanya dari Agustus hingga Oktober lalu juga mengganggunya.
Namun Van Gaal mungkin membawanya hanya sebagai pelapis sekaligus mentor. Atau bisa jadi, ia akan dimanfaatkan tinggi badannya untuk duel bola atas ketika para striker cepat dan mungil De Oranje mengalami deadlock.
Luuk De Jong
#FIFAWorldCup pic.twitter.com/oS5ng0h0rZ
— H (@HQpcrt) November 17, 2022
Lalu di Jerman juga ada nama Mario Gotze. Memang, dia adalah pencetak gol kemenangan ketika menggondol juara dunia 2014 lalu. Namun seiring usia dan performa terkini, nama Gotze terasa aneh ketika dipanggil ke Qatar.
2014
2022
Mario Götze is back at the World Cup
pic.twitter.com/5B93HDuk4N
— B/R Football (@brfootball) November 17, 2022
Gotze ini sudah sangat lama hilang dari peredaran langganan skuad Der Panzer. Gotze terakhir kali membela timnas pada November 2017 silam. Bahkan di Frankfurt, ia secara statistik juga biasa-biasa saja. Hanya 2 gol dan 4 assist.
Mungkin Hansi Flick melihat salah satu faktor “X” yang dipunyai Gotze. Ia bisa menjadi penular mental juara dunia 2014 kepada rekan-rekannya di skuad. Selain itu, ia juga bisa dijadikan alternatif ketika lini penyerangan mengalami deadlock.
Berikutnya ada trio The Three Lions, Lord Maguire, Callum Wilson dan Kalvin Phillips. Dari Callum Wilson, striker Newcastle ini mengejutkan ketika namanya dipanggil sebagai gantinya Ivan Toney yang dicoret. Kalau secara posisi, Wilson nantinya hanya akan menjadi pelapis Kane.
Namun secara statistik jika dibandingkan dengan Toney, Wilson masih kalah jauh. Toney sudah mencipta 11 gol dan 3 assist. Sedangkan Wilson hanya 6 gol 2 assist. Di penghujung jelang Piala Dunia pun, Wilson masih mengalami gangguan cedera. Beda dengan Toney yang mengamuk ketika mengalahkan Manchester City.
Kalvin Phillips made his Manchester City return last night, in the Carabao Cup win over Chelsea.
Those 40 minutes were his first in almost two months – has he played enough to earn a place in the squad?
LIVE: https://t.co/bja9vGWRsJ#FIFAWorldCup | #Qatar2022 pic.twitter.com/aiwJ7IJUOM
— Standard Sport (@standardsport) November 10, 2022
Kemudian di lini tengah ada nama Kalvin Phillips. Pemain yang musim ini menjadi pemain pesakitan yang lebih akrab dengan meja perawatan di Manchester City. Bermain hanya 4 kali dengan total hanya 53 menit.
Mungkin Southgate hanya modal percaya karena sudah lama bekerja sama dengannya ketika di Euro 2020 yang lalu. Terlebih masih ada juga nama Bellingham, Rice, maupun Henderson di posisi itu.
Tak beda jauh dengan Lord Maguire. Kapten sejuta umat ini adalah salah satu anak kesayangan Southgate. Jarang tampil reguler di MU dan sering blunder, tak membuat Southgate berpaling. Entah apa yang dilihat Southgate, sulit untuk menjawabnya. Mungkin saja dia lebih tau segalanya. Jadi, kita lihat saja di Qatar nanti penampilannya akan seperti apa.
]]>Good morning
@PUMA @pumafootball @England pic.twitter.com/WjLec4DhOr
— Harry Maguire (@HarryMaguire93) November 11, 2022